Rayakan HUT ke-101, RS Mata "Dr. YAP" Gelar Operasi Mata Gratis
Yogyakarta, 27 Mei 2024 - Kebutaan dan gangguan tajam penglihatan adalah masalah kesehatan mata global. Di seluruh dunia, sejumlah 37 juta jiwa mengalami kebutaan. Total 161 juta orang mengalami gangguan tajam penglihatan. Dari situ, sepertiganya berada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Berangkat dari fenomena tersebut, pemeriksaan dan deteksi dini menjadi kunci, agar permasalahan pada mata dapat diketahui dengan segera dan ditangani seawal mungkin. Keterlambatan pendeteksian gangguan mata berisiko terlambatnya pelaksanaan terapi. Lebih jauh, kualitas penglihatan dan aktivitas sehari-hari orang dengan gangguan mata dapat terganggu seiring perburukan yang terjadi.
Pemeriksaan dan deteksi dini gangguan mata telah menjadi perhatian dunia. Termasuk RS Mata "Dr. YAP". Namun, faktanya tidak semua orang memiliki akses dan kesempatan yang sama. Masih banyak penderita gangguan tajam penglihatan dan berisiko buta tidak mendapat akses ke pelayanan kesehatan mata yang layak. Untuk itu, RS Mata "Dr. YAP" berupaya hadir di tengah masyarakat. RS Mata "Dr. YAP" ingin menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan pelayanan kesehatan mata. Salah satunya, dengan menggelar kegiatan bakti sosial pemeriksaan dan operasi mata.
Memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-101, tepatnya 29 Mei 2024 mendatang, RS Mata "Dr. YAP" menggelar kegiatan bertajuk "Pemeriksaan dan Operasi Mata Gratis: Envisioning Inspiring the Future". Kegiatan ini digalang dengan tujuan menurunkan angka kebutaan di Indonesia, terutama kebutaan yang dapat dicegah. Tahun ini, RS Mata "Dr. YAP" menghimpun 100 pasien pra-sejahtera (tidak memiliki BPJS dan jaminan kesehatan lainnya serta menyertakan surat keterangan tidak mampu) untuk diperiksa. Pasien yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan tindakan operasi, akan ditindaklanjuti dengan operasi sesuai diagnosisnya. RS Mata "Dr. YAP" menyediakan 60 paket operasi mata gratis, meliputi 40 operasi katarak, 5 operasi glaukoma, dan 15 operasi pterygium.
Saat ini, katarak adalah penyebab kebutaan nomor satu di dunia, termasuk Indonesia. Katarak adalah terjadinya perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Kekeruhan tersebut menyebabkan cahaya menjadi sulit masuk dan mencapai retina. Akibatnya, penderita katarak tidak dapat melihat dengan jelas. Penderita katarak akan mengalami penglihatan kabur seperti melihat kaca yang berembun atau sedang berada di tempat berkabut, mata lebih mudah silau jika terkena cahaya, penglihatan ganda saat mengemudi di malam hari, perlu cahaya terang yang ekstra untuk membaca, dan lensa mata (manik mata) berubah buram atau putih seperti susu.
Glaukoma adalah penyebab kebutaan nomor dua di dunia setelah katarak. Glaukoma merupakan kelompok penyakit saraf mata kronis dan progresif yang disebabkan oleh peningkatan tekanan bola mata sebagai salah satu faktor risiko utamanya. Glaukoma dapat mengenai satu atau dua mata sekaligus serta dapat terjadi di segala usia, baik laki-laki maupun perempuan. Walau tekanan bola mata yang meninggi merupakan faktor utama, penyebab glaukoma itu mulfifaktorial. Tekanan bola mata yang tinggi paling sering disebabkan oleh terhambatnya pengeluaran cairan bola mata (humor aqueos). Berdasarkan sifatnya, glaukoma sering disebut "pencuri penglihatan". Glaukoma berkembang tanpa ditandai dengan gejala yang nyata. Penderitanya sering tidak menyadari penyakit ini sampai terjadi kerusakan penglihatan yang sudah lanjut. Oleh sebab itu, deteksi, diagnosa, dan penanganan kasus glaukoma harus dilakukan sedini mungkin.
Pterygium merupakan pertumbuhan jaringan fibrovaskular yang berbentuk selaput tipis pada bagian putih mata atau konjungtiva. Pertumbuhannya dapat mengalami pembesaran atau perluasan hingga kornea mata. Kasus pterygium banyak dijumpai di daerah tropis, seperti Indonesia. Orang dengan aktivitas di luar ruangan dan terpapar sinar matahari langsung berisiko lebih besar terkena pterygium. Selain paparan sinar matahari, debu, pasir, partikel-partikel yang terbawa angin, mata kering, infeksi mikroba atau virus merupakan faktor-faktor risiko pterygium. Penderita pterygium umumnya akan merasakan kering pada mata. Selain itu, ada pula gejala seperti ada rasa mengganjal, mata merah, penglihatan terganggu, dan gerak bola mata yang terganggu.
Skrining atau pemeriksaan pra-operasi dilaksanakan pada Minggu, 26 Mei 2024 di RS Mata "Dr. YAP". Sebanyak 100 orang pasien diperiksa (screening) oleh dokter-dokter spesialis mata dari RS Mata "Dr. YAP" dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Cabang DI Yogyakarta. Bagi pasien yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan tindakan operasi ditindaklanjuti operasi di hari yang sama, Minggu, 26 Mei 2024. Operasi dilaksanakan secara simultan di Ruang Operasi RS Mata "Dr. YAP" sesuai jadwal dokter operator/pelaksana. Setelah operasi, pasien diwajibkan kembali ke RS mata "Dr. YAP" pada H+1 dan H+7 untuk menjalani kontrol.
RS Mata "Dr. YAP" mengucapkan terima kasih atas dukungan pihak-pihak yang telah bersinergi mensukseskan gelaran "Pemeriksaan dan Operasi Mata Gratis: Envisioning Inspiring the Future" Memperingati Hari Ulang Tahun ke-101 RS Mata "Dr. YAP". Semoga kegiatan yang terselenggara ini dapat sungguh bermanfaat bagi para peserta, sehingga setelah operasi mata mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih cerah.
(Humas RS Mata "Dr. YAP")